Ekologi Kota
Bertani di Kota: Perlawanan Warga Melawan Gentrifikasi dan Kapitalisme Ruang!
Di tengah maraknya urbanisasi yang sering kali menghapus ruang hijau dan meminggirkan komunitas lokal, muncul inisiatif bertani di kota sebagai bentuk perlawanan terhadap homogenisasi perkotaan. Dalam episode Bincang Pinggiran bersama Dr. Arie Sujito dan Vanie Febriyanti, diskusi berfokus pada seni bertani di kampung kota Bandung. Inisiatif ini tidak hanya menjadi solusi bagi ketahanan pangan tetapi juga ruang emansipasi sosial bagi warga kota yang terpinggirkan. Kampung Kota: Ruang Hijau yang Terancam Urbanisasi yang masif telah mengubah wajah kota menjadi ruang yang didominasi oleh beton dan gedung pencakar langit. Kampung kota, sebagai ruang hidup komunitas lokal, sering kali terancam oleh gentrifikasi dan proyek pembangunan besar. Vanie Febriyanti, melalui inisiatif seni bertani di kampung kota Bandung, menunjukkan bagaimana warga dapat merebut kembali ruang mereka untuk menciptakan lingkungan yang lebih berkelanjutan. Dr. Arie Sujito menegaskan: "Kampung kota adalah ruang hidup yang harus dilindungi; ia bukan sekadar tempat tinggal tetapi juga pusat solidaritas sosial." Pernyataan ini menyoroti pentingnya mempertahankan kampung kota sebagai bagian integral dari kehidupan perkotaan. Bertani di Kota: Antara Seni dan Ketahanan Pangan Inisiatif bertani di kampung kota Bandung tidak hanya berfokus pada produksi pangan tetapi juga mengintegrasikan seni sebagai alat edukasi dan pemberdayaan. Warga diajak untuk menanam tanaman pangan di lahan sempit, memanfaatkan limbah organik sebagai pupuk, dan menciptakan instalasi seni dari hasil pertanian mereka. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan ketahanan pangan tetapi juga membangun kesadaran ekologis di kalangan warga. Dr. Arie Sujito menyebutkan: "Bertani di kota bukan hanya soal pangan; ia adalah soal membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya keberlanjutan." Dengan memanfaatkan seni sebagai medium, inisiatif ini berhasil menarik perhatian anak muda untuk kembali dekat dengan dunia pertanian. Kritik terhadap Urbanisasi Kapitalistik Urbanisasi kapitalistik sering kali meminggirkan komunitas lokal demi kepentingan ekonomi besar. Proyek-proyek pembangunan seperti mal atau apartemen mewah sering kali menggusur kampung kota tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap kehidupan warga. Hal ini menciptakan ketimpangan sosial yang semakin tajam di perkotaan. David Harvey, seorang sosiolog urban terkemuka, dalam teorinya tentang hak atas kota, menjelaskan bahwa ruang perkotaan seharusnya menjadi milik semua orang, bukan hanya segelintir elite ekonomi. Harvey mengkritik bagaimana kapitalisme mengubah kota menjadi komoditas yang hanya dapat diakses oleh mereka yang memiliki kekuatan finansial. Dalam konteks kampung kota Bandung, inisiatif bertani menjadi bentuk perlawanan terhadap kapitalisme ruang ini dengan merebut kembali hak atas tanah untuk tujuan sosial dan ekologis. Pemberdayaan Warga Melalui Pertanian Urban Salah satu dampak positif dari bertani di kampung kota adalah pemberdayaan warga lokal. Melalui pelatihan dan pendampingan, warga diajarkan cara bercocok tanam secara organik, mengelola limbah rumah tangga, hingga menciptakan produk bernilai ekonomi seperti jamu atau makanan olahan dari hasil panen mereka sendiri. Dr. Arie Sujito menyebutkan: "Ketika warga diberdayakan melalui pertanian urban, mereka tidak hanya mendapatkan manfaat ekonomi tetapi juga membangun solidaritas sosial." Solidaritas ini terlihat dari bagaimana warga saling mendukung dalam menjaga lahan pertanian mereka dari ancaman gentrifikasi atau penggusuran paksa. Rekomendasi untuk Pengembangan Pertanian Urban Untuk memperkuat dampak positif dari pertanian urban seperti yang dilakukan di kampung kota Bandung, diperlukan langkah-langkah strategis berikut: Kolaborasi Lintas Sektor: Melibatkan pemerintah daerah, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil dalam mendukung inisiatif pertanian urban melalui kebijakan pro-lingkungan dan pendanaan program komunitas. Edukasi Publik: Mengintegrasikan konsep pertanian urban ke dalam kurikulum sekolah untuk meningkatkan kesadaran anak muda tentang pentingnya ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan. Penggunaan Teknologi Hijau: Memanfaatkan teknologi seperti hidroponik atau aquaponik untuk meningkatkan produktivitas lahan sempit di perkotaan. Advokasi Kebijakan: Mendorong pemerintah untuk memberikan perlindungan hukum bagi kampung kota agar tidak mudah digusur oleh proyek pembangunan besar. Bertani Sebagai Gerakan Sosial Inisiatif bertani di kampung kota Bandung membuktikan bahwa ruang hijau bisa diciptakan bahkan di tengah tekanan urbanisasi kapitalistik. Seperti kata Dr. Arie Sujito: "Bertani adalah tindakan politik; ia adalah cara warga merebut kembali hak atas ruang mereka." Dengan pendekatan berbasis seni dan pemberdayaan komunitas, inisiatif ini berhasil menciptakan model pembangunan perkotaan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Inspirasi dari kampung kota Bandung harus menjadi panggilan bagi daerah lain untuk mempertahankan ruang hijau mereka sekaligus memberdayakan komunitas lokal melalui praktik-praktik yang inovatif dan berkelanjutan. https://www.youtube.com/watch?v=tbhp-HKSRao
Read More